Senin, 04 Januari 2016

LCA (Life Cycle Assessment)



Rika Febriani - 41615010063

PENILAIAN DAUR HIDUP BOTOL PET (POLYETHYLENA TEREPHTALE) PADA PRODUK MINUMAN LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) OF PET (POLYETHYLENA TEREPHTALATE) BOTTLES FOR DRINKING PRODUCT

Penulis: Mohamad Yani, Endang Warsiki, dan Noviana Wulandari
Tahun Terbit: 2013


  • ·         Pendahuluan

Peningkatan populasi masyarakat akan meningkatkan konsumsi berbagai jenis makanan dan minuman yang akan diikuti dengan peningkatan limbah bahan kemasan yang menyertainya. Produk minuman yang dikonsumsi utama adalah air. Bahan kemasan minuman relative memiliki umur yang pendek, dimana jumlah limb kemasan produk minuman sebanding dengan penjualan produk minuman tersebut. Kemasan produk minuman yang digunakan terutama plastic (PET,PP, dan PE) dan gelas. Bahan kemasan polyethylene terephtale (PET) adalah suatu resin polimer plastic termoplastis dari kelompok polyester. PET banyak diproduksi dalam industry kimi dan digunakan dalam serat sintesis, botol minuman dan wadah. Kecenderungan peningkatan limbah kemasan PET berdampak negative terhadap permasalahan lingkungan, dimana sebagian besar bahan kemasan plastic tidak dapat didaur ulang oleh lingkungan, sehingga perlu dilakukan suatu pengkajian mengenai jenis kemasan yang paling baik terhadap lingkungan dengan menggunakan metoda Life Cycle Assessment (LCA).
Menurut Drive (2006), LCA adalah suatu metoda yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan yang disebabkan oleh suatu produk selama prosesproduksi atau aktivitas selama siklus hidupnya dan aliran bahan yang terjadi di dalam proses produksi produk tersebut. Penilitian LCA pada industry minuman umumnya adalah pembandingan beberapa jenis bahan kemasan, terutama penggunaan kemasan botol sekali pakai (disposable) dan isi ulang (refillable), baik botol jenis gelas maupun plastic.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasikan siklus hidup kemasan botol PET pada produk minuman the mencakup analisis inventori dari sisi kebutuhan bahan baku, kebutuhan energy pada proses produksi, dan menilai dampak pencemaran lingkungan, pengelolaan limbah, dan analisis biaya.


  • ·         Hasil Penelitian

1.     Tujuan dan Ruang lingkup
Tahap pertama studi LCA adalah penentuan tujuan dan ruang lingkup kajian. Batasan atau ruang lingkup kajian meliputi proses produksi kemasan botol PET, pengguna, dan pengolahan limbah kemasan botol PET, dampak lingkungan dan analisis biaya. Pemilihan kategori dampak harus konsisten dengan tujuan dan ruang lingkup penelitian, dan mencerminkan isu-isu lingkungan utama yang berhubungan dengan system produk/jasa. 

2.    Analisis Inventori

Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data yang mendukung LCA, berupa kebuthan bahan baku dan energy, proses produksi kemasan, dan proses daur ulang limbah kemasan botol PET. Siklus hidup kemasan PET, diawali dengan proses produksi kemasan botol PET, kemudian kemasan botol PETyang telah selesai diproduksi digunakan untuk mengemas produk minuman teh. Produk tersebut akan disalurkan ke konsumen melalui distributo dan konsumen akan memanfaatkan produk tersebut sehingga dihasilkan limbah kemasan yang berpotensi mencemari lingkungan. Pencemaran tersebut dapat terjadidapat terjadi karena kemasan botol PET tidak dapat di daur ulang oleh lingkungan. Sehingga dibutuhkan suatu tindakan untuk menanggulangi limbah kemasan botol PET. Siklus hidup kemasan botol PET tersusun dari tiga kegiatan yaitu pabrik kemasan botol PET, pabrik minuman teh, dan jaringan daur ulang kemasan PET.
a.    Pabrik Kemasan Botol PET
Secara ringkas, kegiatan pabrik kemasan PET dalam memproduksi botol PET menggunakan bahan baku resin PET. Pengolahan dan pembentukan botol kemasan PET dalam bentuk perform untuk dikirimkan ke pengguna atau pabrik minuman teh. Pada proses  produksi botol PET, limbah yang banyak dihasilkan alah limbah padat yang berupa perform dan botol PET yang tidak memenuhi standar akan dijual ke industry yang membutuhkan, seperti produk rumah tangga dan tidak digunakan kembali dalam bahan baku produksi kemasan botol PET.
b.    Pabrik Minuman Teh
Pengamatan kemasan produk minuman teh yang popular di Indonesia adalah kemasan PET. Kegiatan pabrik pengguna kemasan PET adalah mengubah botol PET  bentuk sementara menjadi bentuk botol kemasan PET, pengisian produk minuman teh, pelabelan, pengemasan, dan distribusi dan transportasi produk teh kemasan PET ke konsumen. Selanjutnya, produk minuman tersebut dikonsumsi dan limbah kemasan botol PET dibuang atau dikumpulkan untuk di daur ulang.
c.    Daur Ulang PET
Kegiatan daur ulang limbah botol kemasan PET dimulai dari pengumpulan, pemilihan tutup botol dan label serta disortasi berdasarkan warna, kemudian botol diolah menjadi serpihan PET melalui tahapan proses penggilingan, pencucian, dan pengeringan. Temuan dilapagan, menunjukkan semua jenis plastic dikumpulkan oleh pemulung, disortasi berdasarkan jenisnya untuk pemanfaatan selanjutnya sebagai bahan plastic yang dapat didaur ulang.

3.    Evaluasi Dampak Lingkungan

Cemaran lingkungan yang terjadi selama siklus hidup kemasan PET meliputi cemaran komponen fisik-kimia (limbah udara, debu, kebisingan, limbah padat, dan air limbah) dan komponen ekonomi.
a.    Komponen Fisik Kimia
Pada proses produksi kemasan botol PET, limbah yang dihasilkan dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu limbah padat, gas debu, dan kebisinga. Pada proses produksi botol PET, dihasilkan debu akibat adanya pergerakan kendaraan pengangkut bahan baku, alat transportasi, dan penggunaan mesin produksi. Penggunaan exhause fan berujuan untuk mengalirkan udara dalam ruangan ke luar ruangan, dimana cemaran gas, panas, dan debu-debu halus yang trrdapat dalam ruangan akan terhisap dan terdorong ke udara bebas. Mesin atau peralatan yang digunakan pada proses produksi kemasan botol PET menghasilkan kebisingan. Limbah padat yang dihasilkan pada proses produksi kemasan botol PET berupa botol dan perform yang tidak memenuhi standar.
b.    Komponen Sosial dan Ekonomi
Pada tahap produksi kemasan botol PET, diprakiraan dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat local sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

4.    Biaya Produksi

Pada siklus hidup kemasan membutuhkan biaya, baik untuk membeli bahan baku maupun energy yang digunakan untuk mendukung proses produksidan transportasi. Pada proses penanganan limbah kemasan, biaya yang dibutuhkan untuk menangani limbah kemasan botol PET jauh lebih besar dibandingkan botol gelas, hal ini dikarenakan banyaknya tahapan yang dibutuhkanuntuk menangani limbah botol PET, tetapi harga jual limbah kemasan botol PET jau lebih tinggi dibandingkan kemasan botol gelas.


  • ·         Kesimpulan

Siklus hidup kemasan botol PET di Indonesia terdiri atas tiga kelompok yaitu: produsen kemasan botol PET, pabrik pengguna kemasan, jaringan daur ulang kemasan botol PET untuk bahan baku industry plastic lain yang bersifat searah dan belum menjadi siklus utuh. Produksi kemasan PET mengahsilkan produk cacat. Analisis dampak lingkungan dari siklus produksi kemasan PET menghasilkan cemaran udara, kebisingan dan air limbah yang masih baik analisi biaya produksi berkaitan dengan penggunaan jumlah bahan baku dan energy sehingga menentuan harga jual produk. Harga jual limbah serpiha PET tiga kali lebih tinggi dari pada pecahan gelas. Kajian analisis dampak lingkungan fisik, kimia, biologi dan sosial ekonomi perlu dilakukan untuk melihat lebih jauh dampak lingkungan dari LCA kemasan botol PET. 

Sumber: http://ojs.unud.ac.id/index.php/blje/article/view/6647/5080

Tidak ada komentar:

Posting Komentar