Rika Febriani - 41615010063
PENILAIAN
DAUR HIDUP BOTOL PET (POLYETHYLENA
TEREPHTALE) PADA PRODUK MINUMAN LIFE
CYCLE ASSESSMENT (LCA) OF PET (POLYETHYLENA TEREPHTALATE) BOTTLES FOR DRINKING PRODUCT
Penulis: Mohamad Yani, Endang Warsiki, dan Noviana Wulandari
Tahun Terbit: 2013
- · Pendahuluan
Peningkatan populasi masyarakat akan
meningkatkan konsumsi berbagai jenis makanan dan minuman yang akan diikuti
dengan peningkatan limbah bahan kemasan yang menyertainya. Produk minuman yang
dikonsumsi utama adalah air. Bahan kemasan minuman relative memiliki umur yang
pendek, dimana jumlah limb kemasan produk minuman sebanding dengan penjualan
produk minuman tersebut. Kemasan produk minuman yang digunakan
terutama plastic (PET,PP, dan PE) dan gelas. Bahan kemasan polyethylene terephtale (PET) adalah suatu resin polimer plastic
termoplastis dari kelompok polyester. PET banyak diproduksi dalam industry kimi
dan digunakan dalam serat sintesis, botol minuman dan wadah. Kecenderungan
peningkatan limbah kemasan PET berdampak negative terhadap permasalahan lingkungan,
dimana sebagian besar bahan kemasan plastic tidak dapat didaur ulang oleh
lingkungan, sehingga perlu dilakukan suatu pengkajian mengenai jenis kemasan
yang paling baik terhadap lingkungan dengan menggunakan metoda Life Cycle Assessment (LCA).
Menurut Drive (2006), LCA adalah suatu
metoda yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan yang
disebabkan oleh suatu produk selama prosesproduksi atau aktivitas selama siklus
hidupnya dan aliran bahan yang terjadi di dalam proses produksi produk tersebut.
Penilitian LCA pada industry minuman umumnya adalah pembandingan beberapa jenis
bahan kemasan, terutama penggunaan kemasan botol sekali pakai (disposable) dan isi ulang (refillable), baik botol jenis gelas
maupun plastic.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasikan siklus hidup kemasan botol PET pada produk minuman the mencakup
analisis inventori dari sisi kebutuhan bahan baku, kebutuhan energy pada proses
produksi, dan menilai dampak pencemaran lingkungan, pengelolaan limbah, dan
analisis biaya.
- · Hasil Penelitian
1. Tujuan dan Ruang lingkup
Tahap
pertama studi LCA adalah penentuan tujuan dan ruang lingkup kajian. Batasan atau
ruang lingkup kajian meliputi proses produksi kemasan botol PET, pengguna, dan
pengolahan limbah kemasan botol PET, dampak lingkungan dan analisis biaya. Pemilihan
kategori dampak harus konsisten dengan tujuan dan ruang lingkup penelitian, dan
mencerminkan isu-isu lingkungan utama yang berhubungan dengan system produk/jasa.
2. Analisis Inventori
Pada
tahap ini dilakukan pengumpulan data yang mendukung LCA, berupa kebuthan bahan
baku dan energy, proses produksi kemasan, dan proses daur ulang limbah kemasan
botol PET. Siklus hidup kemasan PET, diawali dengan proses produksi kemasan
botol PET, kemudian kemasan botol PETyang telah selesai diproduksi digunakan
untuk mengemas produk minuman teh. Produk tersebut akan disalurkan ke konsumen
melalui distributo dan konsumen akan memanfaatkan produk tersebut sehingga
dihasilkan limbah kemasan yang berpotensi mencemari lingkungan. Pencemaran tersebut
dapat terjadidapat terjadi karena kemasan botol PET tidak dapat di daur ulang
oleh lingkungan. Sehingga dibutuhkan suatu tindakan untuk menanggulangi limbah
kemasan botol PET. Siklus hidup kemasan botol PET tersusun dari tiga kegiatan
yaitu pabrik kemasan botol PET, pabrik minuman teh, dan jaringan daur ulang
kemasan PET.
a. Pabrik Kemasan Botol PET
Secara ringkas,
kegiatan pabrik kemasan PET dalam memproduksi botol PET menggunakan bahan baku
resin PET. Pengolahan dan pembentukan botol kemasan PET dalam bentuk perform untuk
dikirimkan ke pengguna atau pabrik minuman teh. Pada proses produksi botol PET, limbah yang banyak
dihasilkan alah limbah padat yang berupa perform dan botol PET yang tidak
memenuhi standar akan dijual ke industry yang membutuhkan, seperti produk rumah
tangga dan tidak digunakan kembali dalam bahan baku produksi kemasan botol PET.
b. Pabrik Minuman Teh
Pengamatan
kemasan produk minuman teh yang popular di Indonesia adalah kemasan PET. Kegiatan
pabrik pengguna kemasan PET adalah mengubah botol PET bentuk sementara menjadi bentuk botol kemasan
PET, pengisian produk minuman teh, pelabelan, pengemasan, dan distribusi dan
transportasi produk teh kemasan PET ke konsumen. Selanjutnya, produk minuman tersebut
dikonsumsi dan limbah kemasan botol PET dibuang atau dikumpulkan untuk di daur
ulang.
c. Daur Ulang PET
Kegiatan daur
ulang limbah botol kemasan PET dimulai dari pengumpulan, pemilihan tutup botol
dan label serta disortasi berdasarkan warna, kemudian botol diolah menjadi
serpihan PET melalui tahapan proses penggilingan, pencucian, dan pengeringan. Temuan
dilapagan, menunjukkan semua jenis plastic dikumpulkan oleh pemulung, disortasi
berdasarkan jenisnya untuk pemanfaatan selanjutnya sebagai bahan plastic yang
dapat didaur ulang.
3. Evaluasi Dampak Lingkungan
Cemaran
lingkungan yang terjadi selama siklus hidup kemasan PET meliputi cemaran
komponen fisik-kimia (limbah udara, debu, kebisingan, limbah padat, dan air
limbah) dan komponen ekonomi.
a. Komponen Fisik Kimia
Pada proses produksi kemasan botol
PET, limbah yang dihasilkan dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu limbah
padat, gas debu, dan kebisinga. Pada proses produksi botol PET, dihasilkan debu
akibat adanya pergerakan kendaraan pengangkut bahan baku, alat transportasi,
dan penggunaan mesin produksi. Penggunaan exhause fan berujuan untuk
mengalirkan udara dalam ruangan ke luar ruangan, dimana cemaran gas, panas, dan
debu-debu halus yang trrdapat dalam ruangan akan terhisap dan terdorong ke
udara bebas. Mesin atau peralatan yang digunakan pada proses produksi kemasan
botol PET menghasilkan kebisingan. Limbah padat yang dihasilkan pada proses
produksi kemasan botol PET berupa botol dan perform yang tidak memenuhi
standar.
b. Komponen Sosial dan Ekonomi
Pada tahap produksi kemasan
botol PET, diprakiraan dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat local
sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
4. Biaya Produksi
Pada
siklus hidup kemasan membutuhkan biaya, baik untuk membeli bahan baku maupun energy
yang digunakan untuk mendukung proses produksidan transportasi. Pada proses
penanganan limbah kemasan, biaya yang dibutuhkan untuk menangani limbah kemasan
botol PET jauh lebih besar dibandingkan botol gelas, hal ini dikarenakan
banyaknya tahapan yang dibutuhkanuntuk menangani limbah botol PET, tetapi harga
jual limbah kemasan botol PET jau lebih tinggi dibandingkan kemasan botol
gelas.
- · Kesimpulan
Siklus
hidup kemasan botol PET di Indonesia terdiri atas tiga kelompok yaitu: produsen
kemasan botol PET, pabrik pengguna kemasan, jaringan daur ulang kemasan botol
PET untuk bahan baku industry plastic lain yang bersifat searah dan belum
menjadi siklus utuh. Produksi kemasan PET mengahsilkan produk cacat. Analisis dampak
lingkungan dari siklus produksi kemasan PET menghasilkan cemaran udara,
kebisingan dan air limbah yang masih baik analisi biaya produksi berkaitan dengan
penggunaan jumlah bahan baku dan energy sehingga menentuan harga jual produk. Harga
jual limbah serpiha PET tiga kali lebih tinggi dari pada pecahan gelas. Kajian analisis
dampak lingkungan fisik, kimia, biologi dan sosial ekonomi perlu dilakukan untuk
melihat lebih jauh dampak lingkungan dari LCA kemasan botol PET.
Sumber: http://ojs.unud.ac.id/index.php/blje/article/view/6647/5080
Tidak ada komentar:
Posting Komentar